Rabu, 25 April 2012

Andai Jakarta Bisa Bicara (draft)


Jika bukan kau, siapa lagi? 
Aku sang Ibukota, tempat kau berpijak dan bernafas 
Aku sang metropolitan, Yang hidup dengan kemacetan dan korupsi. 
Tahukah…?aku sepuh dan aku resah. Aku dipaksa merasakan kondisiku yang semakin parah.
Lihatlah aku. Langit kelabu selalu ‘menghiasi’ hari-hariku. Bukan karena evaporasi uap air yang siap turun menjadi hujan, melainkan asap pabrik industri yang senantiasa terbang dan tanpa rasa berdosa menyelimutiku. Menjadikanku demam dan membuatmu gerah. Oh, tidak.. Bukankah manusia memiliki benda ajaib bernama AC yang konon mampu menyejukkan ruang kelas dan ruang kerja ?. Kemudian benda itu menghasilkan freon mungil yang dengan riang terbang menuju ozon lalu menggerogotinya hingga berlubang dan tak lagi mampu mem-filter sinar ultraviolet. Ya. Alhasil, orang-orang mengenalku sebagai kota yang panas.
Keadaanku diperburuk dengan semakin minimnya jumlah pepohonan. Manusia menebang mereka dengan dalih penyejahteraan rakyat, untuk pembuatan jalan dan pembangunan kota.

Kemudian Insinyur pertanian kebingungan mencari tanah. Dan berhentilah menyalahkan anak-anak yang bermain bola di tengah jalan!. Memang dimana ada lapangan kosong?  Kalaupun ada, tempat itu dipenuhi sampah yang membukit- yang berusaha bersaing dengan gedung-gedung pencakar langit di seberang sana. 
Sungaiku multifungsi, di bantarannya penuh rumah kardus kumuh seadanya. Dihuni oleh orang-orang yang tatapannya kosong dan nanar. Alih-alih memikirkan cita-cita 10 tahun ke depan, untuk makan esok pagi saja mereka hanya mampu berharap. Sungaiku memang belakangan ini terkenal sebagai pembuangan akhir terpanjang di dunia. Cobalah hirup aroma ciliwungku yang ‘wangi’ semerbak sampah. Mungkin kau berpikir jika membuang satu sampah saja tidak berarti apa-apa. Namun bagaimana jika 9 juta pendudukku melakukan hal yang sama?. Dan lagi-lagi manusia memakiku saat akhirnya jalan dan perumahan dilanda banjir karena sungaiku yang mengamuk. 
Kau juga pasti tahu, Aku memiliki banyak mal mewah. Namun apakah itu tanda meningkatnya kesejahteraan masyarakat? Tidak! Rasanya semu. Anak jalanan yang hidup di kolong jembatan tetap tak pernah absen mengisi ruang-ruang publik di kota. Baliho dan spanduk meriahkan pemandangan jalan dan janji penuh retorika dari bibir para mafia ekonomi dengan kitab suci kapitalisme mereka membahana di seluruh penjuru tanpa aksi yang nyata. Bertolak belakang dengan anggunnya Monumen Nasional yang berdiri kokoh sebagai simbolitas mental bangsa ini. Mental bangsa ini? 
Aku bicara padamu.. 
Aku tahu kau adalah manusia terdidik yang dididik untuk kelak memimpin bangsa ini. Karena itu aku minta padamu, perbaikilah aku. Aku bukan hanya berharap nilaimulah yang terbaik di mata pelajaran Lingkungan Hidup, tapi aku membutuhkan aksi nyatamu untuk mengubahku.
Aku percaya tak lama lagi aku akan menjadi kota yang indah. Tak ada lagi kemacetan karena jumlah kendaraan sudah dibatasi. Monorail menjadi solusi agar manusia tidak menggunakan kendaraan pribadi yang menambah polusi. Pohon-pohonku juga akan diperbanyak dan dirawat. Aku akan terlihat semakin cantik bersama hijaunya taman kota. Dengan begitu manusia tidak perlu menggunakan benda jahat bernama AC sebagai penyejuk ruangan mereka. 
Sungai Ciliwungku akan kembali sebagai primadona kota. Menebarkan wangi harum dan riakkan air jernih. Semua pendudukku akan mendapat akses sanitasi untuk air bersih dan pengelolaan limbah. Aku yang berada di tepi laut, memiliki pemandangan pantai yang tak kalah indah dari pantai lain di negeri ini. 
Pembangunan kota dapat berjalan dengan baik tanpa perlu menyakitiku. Perumahan akan tertata rapi dan bersih. Manusia tidak berani membuang sampah sembarangan seenaknya lagi. Pelarangan mengotori kota akan berlaku sebagai hukum yang nyata dan bukan sekedar teori hitam di atas putih. Karena kelak aku akan dipimpin oleh pemimpin yang jujur dan bermoral. Yang benar-benar menyejahterakan rakyat. Sehingga tak perlu lagi aku merasakan kesedihan anak-anak jalanan yang tinggal di kolong jembatan dan bantaran sungai karena mereka telah mampu bersekolah dan memiliki cita-cita tinggi bahkan melebihi tingginya Monumen Nasional yang terlihat semakin kokoh dan anggun. 
Aku sang Ibukota, tempat kau berpijak dan bernafas …
Aku sang Ibukota, yang cantik, rapi dan bermartabat 
Rakyat sejahtera, Pemerintah bahagia..
by: Filzah P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar